pasang

Sabtu, 11 Mei 2013

Prioritaskan Panas Bumi dalam Pengembangan Energi

Pengembangan energi terbarukan mesti menjadi prioritas pengelolaan energi nasional. Hal ini seiring perkembangan ekonomi, kebutuhan listrik Indonesia yang meningkat pesat rata-rata lebih dari 7 persen per tahun, dan sebagian besar dipasok dari sumber energi fosil yang makin terbatas.  

Direktur Konservasi WWF Indonesia Nazir Foead menyampaikan hal itu dalam siaran pers pada acara peluncuran Laporan WWF Indonesia berjudul "Menyalakan Cincin Api: Sebuah Visi Membangun Potensi Panas Bumi Indonesia", Kamis (5/7/2012) di Jakarta.

Laporan itu merupakan hasil kajian yang mengelaborasi tantangan dan peluang pengembangan energi panas bumi di Indonesia, serta memberikan peta kemungkinan solusinya.

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia, dengan total potensi sekitar 29 gigawatt (GW). Dari jumlah itu, baru dimanfaatkan sekitar 1,2 gigawatt. Kebijakan energi nasional telah menargetkan agar panas bumi dapat menyokong 5 persen bauran energi nasional pada 2025, tetapi hingga kini panas bumi baru berkontribusi 1 persen dengan perkembangan yang lambat.  

"Panas bumi sebagai energi terbarukan mampu menopang ketahanan energi nasional dalam jangka panjang, antara lain karena rendah emisi dan butuh lebih sedikit lahan daripada jenis energi lain, mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil untuk kebutuhan listrik, dan mengurangi beban subsidi energi," kata Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Nyoman Iswarayoga.  

Sifat panas bumi yang site specific, tidak dapat disimpan, dan tidak bisa juga ditransportasikan, jauh membuatnya tidak bisa menjadi komoditas ekspor dan akhirnya lebih tahan terhadap kompetisi energi global, serta fluktuasi harga energi dunia. Selain itu, pengembangan sumber energi panas bumi menciptakan lapangan kerja yang mendorong peningkatan kesejahteraan dan produktivitas ekonomi masyarakat sekitar.  

WWF melihat panas bumi merupakan jenis energi terbarukan yang rendah emisi dan ramah lingkungan. Untuk itu pengelolaannya perlu memperhatikan beberapa aspek, antara lain aspek kelestarian dan peningkatan nilai-nilai konservasi tinggi (keanekaragaman hayati dan habitatnya, tata ruang, ekosistem unik, jasa lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat setempat).
 
Selain itu, pengembangan panas bumi perlu mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan terintegrasi dalam perencanaan kegiatan pengembangan untuk mengantisipasi risiko yang terjadi dan mengancam keberlanjutan kegiatan. Pengakuan terhadap hak warga lokal juga harus dipertimbangkan dengan memastikan partisipasi mereka sejak perencanaan hingga pelaksanaan.

pasang
Diberdayakan oleh Blogger.