Panas Bumi Jalan Keluar Persoalan Pasokan Energi

Sebagai negara yang sedang berkembang dan memiliki pertumbuhan ekonomi enam persen pertahun, Indonesia masih dihadapkan pada kendala rasio elektrifikasi yang baru mencapai 75,83 persen.

Rusia Membuat Pembangkit Listrik Tenaga Jerami di Sumatera Utara Indonesia

Perusahaan asal Rusia, JSC PromSviaz Automatika, akan membangun pembangkit listrik menggunakan limbah tanaman padi, jerami, dan sekam di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pembangkit memiliki kapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt tergantung ketersediaan jerami dan sekam.

140.000 Turbin Angin Penghasil Listrik di Lepas Pantai Amerika

Ilmu Pengetahuan tidak akan ada habisnya, seperti halnya para ilmuwan di Standorf University Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa hal itu mungkin bisa untuk menyalakan seluruh dunia dengan tenaga angin

Uranium dan Aceh

Keberadaan uranium di Aceh hingga kini masih menjadi tanda tanya dan bahan perdebatan yang tak pasti. Sebagian kalangan meyakini, bahwa Aceh memiliki kekayaan alam “berharga” ini. Dari beberapa hasil searching, Saya menemukan beberapa hal aneh berkaitan dengan keberadaan uranium di Aceh.

pasang

Minggu, 30 Juni 2013

Aceh Miliki Potensi 11,736 Juta MW Energi Batubara

Kebutuhan batubara untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya tidak akan bermasalah bila investor tambang ini segera mengantisipasi kebutuhan PLTU tersebut yang hanya butuh 1,2 juta ton per tahun.

Pakar Energi Universitas Syiah Kuala, DR. Mahidin, ST,MT menyatakan Nagan Raya memiliki cadangan 1,3 miliar ton batubara. Potensi batu bara yang terdapat di bumi Aceh sebanyak 1,6 miliar ton, terbesar adalah di Nagan Raya, kata Mahidin, kepada Harian Aceh, di Banda Aceh, kemarin.

Dia menngingatkan Aceh memiliki sumber energi yang sangat besar yaitu 11.736 Giga Watt atau setara dengan 11.736.000 MW. Nilai energi ini dengan asumsi tingkat efisiensi 50%. Jenis energi ini dapat ramah lingkungan asal memakai tekonologi yang tepat, katanya. Malah limbahnya dapat digunakan kembali untuk bahan baku semen.

Potensi batubara ini selain di Nagan Raya juga terdapat di Aceh Barat dan di Aceh Jaya. Walaupun sumber energi batu bara termasuk dalam sumber energi tak terbarukan, kata dia, untuk Aceh bahan baku yang tersedia akan bertahan untuk puluhan tahun lamanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara diversifikasi batubara atau mengombinasikan dengan material lain seperti mencampur batubara dengan cungkil sawit.

Ketika ditanya apa yang menjadi kendala dalam pembangunan PLTU batubara, Doktor lulusan Jepang ini mengatakan bahwa faktor teknologi menjadi tantangan utama. Hal ini demi efisiensi dan keselamatan lingkungan.Dengan memakai teknologi tinggi seperti di Jepang atau negara maju lain maka energi listrik aman dan bisa menjadi murah. Walaupun nilai investasinya menjadi besar, ujar Kepala Laboratorium Sumber Daya dan Energi Jurusan Teknik Kimia Unsyiah ini.

Banyak kalangan peduli lingkungan yang mengkhawatirkan timbulnya dampak lingkungan yang buruk. Dampak lingkungan yang terjadi bisa dimulai dari proses penambangan yaitu limbah cair pencucian batu bara dari kotoran, limbah padat pemisahan batu bara dari kandungan mineral lain. Kemudian ada potensi pencemaran sewaktu proses di PTLU seperti timbulnya emisi udara hitam, munculnya abu terbang katanya.

Namun dengan menggunakan teknologi yang tepat semua efek ini dapat diminimalisir seperti yang sudah diterapkan di Jepang. Jepang sendiri memakai gas, batubara dan nuklir sebagai sumber energinya. Mereka bahkan sudah memanfaatkan abu terbang dari batubara untuk bahan baku campuran semen atau keramik. Malah batubara yang digunakan berada di bawah kualitas batubara Indonesia, ia melanjutkan.

Selain batu bara, Aceh juga memiliki sumber energi alternatif seperti memanfaatkan air atau populer disebut Hidro, yang sudah diterapkan di Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Potensi hidro sendiri mencapai 80% untuk diterapkan di Aceh, katanya kembali.

Alternatif lain bisa memakai sumber energi dari angin terutama bagi daerah yang dekat dengan pantai, gelombang atau pasang surut ataupun biomassa.

Pekan lalu, PT PLN (Persero) menandatangani kontrak EPC (Engineering Procurement Construction) atau kontrak pembangunan konstruksi PLTU di Nagan Raya, dengan kapasitas 2x100 MW. Pemenang kontrak pembangunan adalah Sinohydro Corporation, dengan nilai kontrak sebesar Rp795 miliar dan US$161 (Rp1,481 triliun).

Operasionalisasi untuk PLTU Nagan Raya, unit satu diharapkan efektif 24 bulan dari tanggal kontrak, sedangkan unit dua efektif 26 bulan setelah tanggal kontrak.

Dengan dibangunnya PLTU Nagan Raya pada akhir 2010 nanti, akan terjadi penghematan BBM sebesar 578 juta liter per tahun atau setara dengan penggunaan batu bara sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sehingga diperoleh penghematan sekitar Rp3,6 triliun.

Masalahnya, PLN mencemaskan suplai batubara atas rencana pembangunan PLTU 10.000 MW seluruh Indonesia, termasuk 2 x 100 MW di Nagan Raya itu. Soalnya sampai sejauh ini belum ada kepastian siapa yang akan memasok batubara PLTU tersebut. Sejumlah investor memang sudah melakukan investasi batubara, akan tetapi sampai sejauh ini belum ada kepastian apakah mereka nantinya mampu memasok kebutuhan PLTU tersebut atau tidak. Sejumlah perusahaan pertambangan batubara di Aceh ditengarai sudah membangun kontrak dengan PLTU sejenis di luar negeri. Di sisi lain, PLN sendiri belum mendapatkan izin pemerintah untuk melakukan bisnis batubara

Minggu, 19 Mei 2013

Triangle Energy Gandeng Perusahaan Aceh Kelola Blok Pase

Banda Aceh - Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menjadi saksi penandatanganan kesepakatan kerja sama antara Perusahaan Daerah Pembangunan (PDP) Aceh dan PT Triangle Energy untuk mengelola Blok Pase di Aceh utara dan Aceh Timur.

Selain itu, kesepakatan kedua perusahaan itu yang dituangkan dalam bentuk penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) juga disaksikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Sulaiman Abda.

Penandatanganan MoA ini berlangsung di Banda Aceh. Pihak PDP Aceh diwakili oleh Direktur Utama, Nasruddin Daud dan pihak PT Tiangle Energy langsung diwakili oleh Presiden Direktur, Robert Mervyn Lammey.

Kata Nasruddin Daud, dengan adanya kesepakatan ini, pengelolaan Blok Pase tersebut nantinya akan dilakukan secara bersama-sama. "Jadi PDP Aceh dan PT Tringle Energy adalah joint venture dalam mengelola blok Pase nantinya," tukas Nasruddin.

Sementara itu, Gubernur Aceh memberikan apresiasi dan dukungan penuh atas kesepakatan tersebut. Ia sangat berharap kedepan kedua perusahaan itu bisa merumuskan langkah kerja yang baik dan berkelanjutan.

"Harapan saya kedua perusahaan ini bisa merencanakan Product Sharing Contract (PSC) secepatnya," imbuh Zaini Abdullah.

Proyek Geothermal Seulawah Masih Tunggu Hasil Tender

Banda Aceh - Ada dua proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) yang sedang disiapkan Pemerintah Aceh dengan menggalang investasi swasta, yakni di Jaboi Sabang dan Seulawah Agam, Aceh Besar. Pembangkit listrik tenaga panas bumi ini membutuhkan investasi yang tak sedikit dengan hasil energi yang sangat bersih (green energy). 

Dalam pengerjaannya pertama sekali dikelola oleh perusahaan yang berminat untuk melakukan eksplorasi potensi panas bumi, dengan modal perusahaan itu sendiri. Setelah ditemukannya daya panas bumi yang bisa di gunakan untuk pembangkit listrik, proyek tersebut baru bisa di tender untuk pengerjaan dan pembangunan pabriknya. 

Untuk eksplorasi potensi geothermal di kawasan Gunung Seulawah membutuhkan investasi senilai Rp 220 milyar di wilayah seluas 45.000 hektar. Karena mahalnya biaya "gambling" (berjudi) ini, maka hanya sedikit perusahaan swasta yang bergerak di sektor sumberdaya panas bumi ini. Proyek geothermal seperti ini mengandung resiko yang tinggi bagi investor. 

Sedangkan investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pabriknya, sekitar Rp 1,6 Triliun. Energi yang dihasilkan dari pembangkit geothermal ini kemudian dijual ke PLN. Khusus untuk sumber geothermal Seulawah Agam akan dialirkan ke jaringan grid Sumatra.

Pemerintah Aceh sendiri mengucurkan dana senilai Rp 80 Milyar untuk proyek geothermal Seulawah ini. Dana ini merupakan hibah dari Bank Pembangunan Jerman KfW. 

Masih menurut Syakur, Kabid Migas dan Energi Dinas Pertambangan Aceh, eksplorasi satu sumur mencari uap panas bumi tersebut bisa menghabiskan biaya sangat besar.

Bantuan dana Rp 80 milyar dari pemerintah tersebut nantinya akan diberikan kepada pemenang tender pembangkit listrik tenaga panas bumi di gunung Seulawah Agam. Sedangkan sisanya senilai Rp 140 milyar lagi akan di tanggung si pemenang tender sendiri. Potensi panas bumi Seulawah Agam mencapai 40-55 MW dengan biaya proyek sebesar 120 juta euro atau setera dengan Rp 1.5 trilliun.

Namun yang menjadi pertanyaan, ketika proyek tersebut berhasil dan menghasilkan energi panas bumi, bagaimana pengembalian dana dari pemerintah Aceh Rp 80 Milyar, dan apa keuntungan bagi pemerintah Aceh? “Setahu saya modal yang telah di tanam pemerintah Aceh dalam proyek geothermal di Seulawah tersebut akan menjadi saham pemerintah,” terang Syakur.

Dana hibah Bank Pembangunan Jerman (KfW) itu akan menjadi saham Pemerintah Aceh melalui BUMD yang ditunjuk. 

Pertamina, Origin/PLN, Ormat/Toba Sejahtera dan Chevron merupakan empat perusahaan yang mengikuti tender geothermal Seulawah Agam ini. “Tendernya sedang berlangsung. Sekarang masih dalam tahapan evaluasi,” kata Said Ikhsan, Kepala Dinas Pertambangan Aceh kepada The Globe Journal Senin (29/4/2013).

Said tidak memberikan konfirmasi ketika ditanya kapan proses tender yang sudah berjalan cukup lama ini akan selesai. Masing-masing perusahaan yang mengikuti tender diwajibkan menyetor uang jaminan sebesar Rp. 1 Milyar.

Penyediaan Pasokan Gas untuk PT. PIM Belum Tuntas

Lhoksukon - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Lhokseumawe mulai 'puyeng' memikirkan pasokan gas yang kini mulai minim. Walhasil, jika persoalan itu terus berlanjut maka dipastikan PT PIM akan shut down. Demikian kata Kepala Humas PT. PIM Suryadi melalui stafnya Yoserizal, Sabtu sore (11/05/2013).
"Kami sedang memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pasokan gas yang sekarang ini minim," katanya saat dihubungi The Globe Journal.

Perusahaan pupuk itu kata dia sejak memasuki tahun 2005 lalu dan tahun 2012 kemarin operasi pabrik ini sempat terhenti karena tidak ada gas. Pun jika pemerintah tidak segera mengambil langkah yang cepat maka perusahaan inipun akan tutup.
Sementara untuk saat ini di tahun 2013, pihaknya masih bisa bertahan melakukan produksinya hingga beberapa bulan ke depan dengan menggunakan pasokan gas dari ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI).

"Pupuk yang diproduksi oleh PT. PIM sekarang mencapai 1.750 ton urea per hari atau 50 ton per bulan. Pemasaranya ke wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kalimantan Barat. Nah, bagaimana jika PIM down karena tak adanya pasokan gas?" tandasnya.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Aceh, Fermandez SE mengatakan, bahwa persoalan kesulitan gas pada yang sedang dialami PIM itu merupakan tugasnya pemerintah untuk mengambil tindakan yang serius.  

"Ini adalah modal awal untuk memperbaiki ekonomi rakyat Aceh. Dengan begitu, maka tenaga kerja Aceh pun akan meningkat. Dan seharusnya Pemerintah optimalkan pasokan gas yang sedang minim di PIM. Kita menilai, bahwa soal perindustrian pemerintah saat ini lebih mengutamakan masalah ekspor gas," kata Firmandez mengkritisi.

Sabtu, 18 Mei 2013

Kandungan dan Sifat Batubara



Ada banyak jenis batubara. Batubara dapat dibedakan berdasarkan karakteristik fisik dan kimia yang menentukan kecocokan penggunaannya.

Batubara terutama terdiri dari karbon. Batubara juga menghasilkan zat terbang/asiri (volatile matter) ketika dipanaskan pada suhu dekomposisinya (penguraiannya). Selain itu, batubara mengandung kadar air dan bahan mineral pembentuk abu. Karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen juga terdapat dalam batubara. Kombinasi dari unsur-unsur tersebut serta pangsa dari zat terbangnya, air, dan abu sangat bervariasi diantara berbagai jenis batubara.
Kandungan karbon tetap dan zat terbang yang dihasilkannya menentukan nilai energi batubara dan sifat pengokasannya dan menjadikannya mineral yang berharga di pasar dunia. Kandungan karbon tetap umumnya mempengaruhi kandungan energi dari batubara. Semakin tinggi kandungan karbon tetapnya, semakin tinggi kandungan energi dalam batubara tersebut.
  • Zat Terbang (Volatile Matter) adalah bagian sampel batubara yang kering udara (air dried) yang dikeluarkan dalam bentuk gas selama tes pemanasan standar. Zat terbang merupakan unsur positif untuk batubara termal tapi dapat menjadi sesuatu yang negatif untuk batubara kokas.
  • Abu adalah ampas yang tersisa setelah pembakaran sempurna semua bahan batubara organik dan dekomposisi bahan mineral yang terdapat dalam batubara. Semakin tinggi kandungan abu, maka semakin rendah kualitas batubara. Kandungan abu yang tinggi berarti nilai kalorinya lebih rendah (kandungan energi per ton batubara) dan peningkatan biaya transportasi.
Sebagian besar batubara yang diekspor dicuci terlebih untuk mengurangi kandungan abu (beneficiation) dan memastikan kualitas yang konsisten.
  • Kandungan (kadar) air menunjukan jumlah air yang ada dalam batubara. Biaya transportasi meningkat dengan meningkatnya kadar air. Kelebihan kadar air dapat dibuang setelah beneficiation pada fasilitas preparasi, namun hal ini akan meningkatkan biaya pengolahan.
  • Adanya kandungan sulfur meningkatkan biaya operasi dan pemeliharaan bagi pengguna akhir (end-user). Jumlah sulfur yang tinggi menyebabkan korosi dan emisi dari sulfur dioksida pada produsen baja dan pembangkit tenaga listrik. Kadar sulfur yang rendah pada batubara tidak memerlukan instalasi alat desulfurisasi untuk memenuhi peraturan emisi yang ada.
Batubara di belahan bumi selatan umumnya memiliki kandungan sulfur yang rendah dibandingkan dengan batubara di belahan bumi utara.

 Dalam sistem peringkat, batubara berperingkat tinggi mempunyai tingkat kelembapan dan penguapan lebih rendah. Batubara peringkat tinggi juga cenderung memiliki kandungan karbon lebih tinggi dan kandungan energi yang tetap.

Sifat batubara lainnya seperti grindability (ketergerusan), vitrinite reflectance (pemantulan vitrinit) dan crucible swelling number (indeks muai bebas) merupakan faktor penting ketika kita akan melakukan penilaian kualitas batubara. Umumnya, batubara berperingkat tinggi memiliki kualitas kokas yang tinggi. Batubara kokas tidak banyak tersedia dibandingkan batubara termal, sehingga harganya lebih mahal.

Manfaat dan Kegunaan Batubara

Pada tahun 1800-an, batubara secara harfiah mendorong industrialisasi dunia. Dewasa ini, batubara menjadi sumber daya bagi lebih dari 35 persen listrik dunia dan digunakan untuk memproduksi 70 persen baja dunia.

Produk antara batubara (byproduct) dapat digunakan untuk membuat segala macam produk, dari bensin, parfum, kapur barus, hingga baking powder.

Hal terbaik dari batubara, bagaimanapun, adalah harganya yang rendah. Batubara merupakan -dan akan terus menjadi- bahan bakar yang handal, dan irit .

Karena keterjangkauan dan kelimpahan, penggunaan batubara terus menjadi primadona, terutama karena teknologi baru yang terus dikembangkan dan biaya untuk menghasilkan sumber energi lainnya terus naik.

Batubara Untuk Membuat Kokas, Kokas untuk Membuat Baja
Produsen bir adalah orang yang pertama kali menggunakan kokas. Untuk memanggang biji-bijian yang digunakan untuk membuat produk bir mereka, produsen bir mempelajari bagaimana cara untuk memanaskan batubara pada temperatur yang sangat tinggi dengan kondisi kedap udara.

Proses ini menyingkirkan byproduk yang tidak diinginkan seperti ter, minyak dan gas dari batubara. Produk akhirnya adalah massa karbon yang hampir murni, bernama kokas. Kokas bekerja dengan baik untuk memproduksi bir,tetapi yang lebih penting, kokas menjadi bahan utama dalam produksi baja.

Dalam produksi baja, kokas dan bijih logam, seperti bijih besi, digabungkan dalam blast furnace. Kokas menyediakan panas yang secara kimiawi mengubah bijih yang seperti batu menjadi bentuk logam cair. Kokas juga membantu memisahkan gas dari logam cair. Sementara gas naik di dalam tungku, logam cair tenggelam ke bawah dimana ia akan diambil untuk diproses lebih lanjut menjadi baja.

Multi-purpose Batubara
Batubara dapat diubah menjadi banyak produk yang kita gunakan sehari-hari. Batubara dapat diolah menjadi gas sintetis, yang kemudian dapat disempurnakan menjadi bensin, solar dan minyak tanah. Bahkan, batubara bisa menjadi bahan baku untuk membuat plastik, pupuk, film dan bahkan parfum!

Keuntungan Gasifikasi

Gasifikasi memiliki keuntungan lebih saat proses pembakaran, yaitu untuk kontrol emisi. Kontrol emisi menjadi lebih sederhana dalam gasifikasi dibandingkan pembakaran konvensional, karena syngas yang diproduksi dalam gasifikasi menghasilkan suhu dan tekanan yang lebih tinggi dibandingkan gas buang yang dihasilkan dalam pembakaran. Suhu dan tekanan yang lebih tinggi memungkinkan untuk penghapusan yang lebih mudah bagi sulfur dan nitrogen oksida (SOX, dan NOx), dan jejak kontaminan seperti merkuri, arsenik, selenium, kadmium, dll. Sistem gasifikasi dapat mencapai tingkat emisi yang lebih rendah dibandingkan tingkat regulasi, menurunkan kandungan merkuri, dan biaya minimal. Selain itu, sistem gasifikasi memerlukan lebih sedikit air dibandingkan teknologi lainnya.

Pemanfaatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon
Serupa dengan penghilangan kontaminan lainnya, gasifikasi cocok untuk penyingkiran karbon dioksida (CO2) yang efisien karena suhu dan tekanan tinggi dari syngas yang dihasilkan. Studi menunjukkan bahwa dalam aplikasi penghapusan CO2, pembangkit siklus kombinasi gasifikasi terpadu (IGCC) lebih efisien daripada teknologi komersial lainnya. CO2 ditangkap untuk dicegah agar tidak memasuki atmosfer baik untuk dimanfaatkan atau disimpan. Dua pilihan yang paling umum adalah carbon dioxide enhanced oil recovery (CO2 EOR), dan penyerapan karbon. CO2 EOR adalah strategi pemanfaatan yang sangat praktis, di mana CO2 diinjeksi ke bawah tanah ke ladang minyak tua untuk menyapu sisa minyak, dimana CO2 disimpan di bawah tanah pada proses ini. Penyerapan karbon melibatkan proses injeksi CO2 ke dalam formasi geologi dalam untuk penyimpanan permanen.

Fleksibilitas Bahan Baku
Beberapa  dari desain gasifier telah dikembangkan untuk mengakomodasi berbagai jenis batubara, dan juga selain memproses limbah dan berbagai jenis biomassa, gasifiers juga dapat menangani kokas gambut dan produk kilang lainnya. Potensi untuk menggunakan lebih dari satu bahan baku di fasilitas tunggal dapat mengurangi risiko proyek dan memperpanjang umur proyek.

Keuntungan Gasifikasi
Gasifikasi dapat digabungkan dengan teknologi turbin yang canggih untuk menghasilkan listrik di pembangkit IGCC. Syngas yang dihasilkan oleh gasifikasi juga dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan bakar cair (solar, bensin, bahan bakar jet, dll), hidrogen dan gas alam sintetis, atau berbagai jenis pupuk atau bahan kimia lainnya yang bernilai tinggi termasuk amonia anhidrat, amonium sulfat, belerang, fenol, nafta dan CO2, disamping banyak lagi yang lainnya. Juga, terak yang dihasilkan dari abu batubara dapat digunakan dalam produksi bahan bangunan seperti semen.

Efisiensi Tinggi
Pembangkit listrik IGCC menawarkan efisiensi yang sama atau lebih baik dari pembangkit listrik batubara lainnya. Selain itu, dalam skenario menangkap dan menyerap karbon dioksida (CCS), pembangkit listrik IGCC jauh lebih efisien daripada pembangkit listrik pembakaran bubuk batubara. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan energi yang diperlukan untuk menghapus CO2 dari aliran proses dalam gasifikasi dibandingkan dengan sistem pembakaran bubuk batubara.

Tantangan
Gasifikasi juga menghadapi beberapa kelemahan, terutama terkait dengan biaya modal dan ketersediaan. Perkembangan di beberapa bidang penelitian dapat meningkatkan prospek jangka panjang dan pangsa pasar potensial.

 
 Lihat pembangkit listrik IGCC dari General Electric (GE)

pasang
Diberdayakan oleh Blogger.