Panas Bumi Jalan Keluar Persoalan Pasokan Energi

Sebagai negara yang sedang berkembang dan memiliki pertumbuhan ekonomi enam persen pertahun, Indonesia masih dihadapkan pada kendala rasio elektrifikasi yang baru mencapai 75,83 persen.

Rusia Membuat Pembangkit Listrik Tenaga Jerami di Sumatera Utara Indonesia

Perusahaan asal Rusia, JSC PromSviaz Automatika, akan membangun pembangkit listrik menggunakan limbah tanaman padi, jerami, dan sekam di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pembangkit memiliki kapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt tergantung ketersediaan jerami dan sekam.

140.000 Turbin Angin Penghasil Listrik di Lepas Pantai Amerika

Ilmu Pengetahuan tidak akan ada habisnya, seperti halnya para ilmuwan di Standorf University Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa hal itu mungkin bisa untuk menyalakan seluruh dunia dengan tenaga angin

Uranium dan Aceh

Keberadaan uranium di Aceh hingga kini masih menjadi tanda tanya dan bahan perdebatan yang tak pasti. Sebagian kalangan meyakini, bahwa Aceh memiliki kekayaan alam “berharga” ini. Dari beberapa hasil searching, Saya menemukan beberapa hal aneh berkaitan dengan keberadaan uranium di Aceh.

pasang
Tampilkan postingan dengan label Minyak Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minyak Bumi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Triangle Energy Gandeng Perusahaan Aceh Kelola Blok Pase

Banda Aceh - Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menjadi saksi penandatanganan kesepakatan kerja sama antara Perusahaan Daerah Pembangunan (PDP) Aceh dan PT Triangle Energy untuk mengelola Blok Pase di Aceh utara dan Aceh Timur.

Selain itu, kesepakatan kedua perusahaan itu yang dituangkan dalam bentuk penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) juga disaksikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Sulaiman Abda.

Penandatanganan MoA ini berlangsung di Banda Aceh. Pihak PDP Aceh diwakili oleh Direktur Utama, Nasruddin Daud dan pihak PT Tiangle Energy langsung diwakili oleh Presiden Direktur, Robert Mervyn Lammey.

Kata Nasruddin Daud, dengan adanya kesepakatan ini, pengelolaan Blok Pase tersebut nantinya akan dilakukan secara bersama-sama. "Jadi PDP Aceh dan PT Tringle Energy adalah joint venture dalam mengelola blok Pase nantinya," tukas Nasruddin.

Sementara itu, Gubernur Aceh memberikan apresiasi dan dukungan penuh atas kesepakatan tersebut. Ia sangat berharap kedepan kedua perusahaan itu bisa merumuskan langkah kerja yang baik dan berkelanjutan.

"Harapan saya kedua perusahaan ini bisa merencanakan Product Sharing Contract (PSC) secepatnya," imbuh Zaini Abdullah.

Selasa, 14 Mei 2013

Lagi, Medco Energi Temukan Sumur Gas di Aceh Timur

Medco Energi Temukan Gas di Sumur Aceh

PT Medco Energi Internasional Tbk melalui anak perusahaannya PT Medco E&P Malaka mengaku telah berhasil menemukan gas pada sumur eksplorasi Matang-1 Blok A PSC, Kabupaten Aceh Timur, Propinsi Aceh.

Pengujian Drill Stem Test (DST) membuktikan cadangan gas di formasi Bampo sedang dilakukan dan akan selesai dalam waktu satu minggu ke depan

Lukman Mahfoedz, Direktur Utama & CEO MedcoEnergi mengatakan, sumur Matang-1 well telah dibor sampai kedalaman 7.893 feet TVD dan menemukan gas di formasi Bampo Atas, untuk target reservoir utama, dengan ketebalan sedikitnya 90 feet karena dasar dari kolom gas ini masih belum diketahui.

"Dari hasil awal pengujian sumur Matang-1 mampu mengalirkan gas 25 MMSCFD pada choke 52 atau 64 inci dengan kandungan H2S yang rendah, kandungan CO2 sekitar 15%," kata Lukman di Jakarta, Minggu (12/4/2013).


Medco Energi membeli hak partisipasi Block A di tahun 2007. Perseroan adalah operator blok dengan hak partisipasi sebesar 41,67%, dengan mitra kerjanya terdiri dari Premier Oil 41,67% dan Japex 16,66%.

Medco Energi berhasil memperoleh perpanjangan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contrac/PSC) Blok A dari pemerintah hingga 2031. Sumur eksplorasi Matang-1 adalah sumur pertama yang dibor sejak 1997 di propinsi Aceh.

Lukman mengaku sangat gembira dengan hasil sumur eksplorasi Matang-1. Ini sesuai dengan strategi bisnis Perseroan untuk melakukan eksplorasi berkualitas tinggi sehingga dapat menambah cadangan minyak dan gas serta meningkatkan indeks jangka waktu cadangan Perseroan.”

"Kami menyampaikan apresiasi kepada semua pemangku kepentingan, terutama pada pemerintah daerah serta masyarakat setempat atas dukungannya sehingga kegiatan pengeboran sumur eksplorasi ini dapat diselesaikan dengan baik,” punkasnya.

Sabtu, 11 Mei 2013

85% Produksi Migas RI dikuasai Perusahaaan Asing

Banyak tudingan lahan minyak dan gas bumi (Migas) di Indonesia dikuasai perusahaan asing. Namun ternyata, sebanyak 49% sumur migas Indonesia dikuasai oleh Pertamina dan semuanya masih perawan alias belum digali maksimal.

"Sebanyak 49% lahan migas yang ada di Indonesia saat ini dikuasai semua oleh Pertamina, dan semua lapangan migasnya saat ini masih virgin (perawan)," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini ketika berkunjung ke Kantor Trans Corp, Jakarta.

Tapi, ujar Rudi, saat ini 85% produksi migas nasional masih disumbang oleh kontraktor-kontraktor multinasional atau asing seperti Chevron, Total E&P, Conoco, Mobil Cepu, Vico, dan lainnya.

"Dari produksi minyak nasional 840.000 barel per hari, sebanyak 39,7% disumbangkan oleh Chevron. Di gas bumi, terbesar dari Total sebesar 20,8% atau 1.93,98 juta kaki kubik per hari (mmscfd)," ungkapnya.

Mengapa Pertamina menguasai 49% ladang migas di Indonesia, namun produksinya baru 15% atau baru 120.000 barel per hari?

"Ya karena ladang migasnya masih virgin semua, semua sumur-sumur migas yang diproduksi Pertamina baru 20-30% saja (digali), sedangkan sumur minyak kontraktor multinasional seperti Chevron, Cepu dan lainnya sudah 70-80% jadi pantas produksinya besar," ungkap Rudi lagi.

Rudi mengatakan, apabila Pertamina menerapkan teknologi pengeboran lebih canggih seperti menggunakan teknologi EOR (injeksi sumur dengan gas), maka produksi migas Pertamina bisa lebih besar.

"Makanya kedepannya hanya kepada Pertamina produksi minyak nasional bisa berharap, sementara kontraktor lainnya hanya mempertahankan produksi minyak saja, kalau pakai teknologi EOR produksi minyak Pertamina bisa naik dari 120.000 barel per hari bisa mencapai 250.000-300.000 barel per hari," tandasnya. Demikian lansir detikfinance.

Senin, 06 Mei 2013

Potret Migas Aceh

Oleh Nurul Aflah

DALAM Indonesia Tertiary Basin Map yang dapat diunduh di website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ada dua basin (cekungan) besar yang mengelilingi Aceh, yaitu North Sumatra Basin di pantai timur dan Sibolga Basin di pantai barat Aceh. yang dikategorikan sebagai drilled and proven discovery of petroleum. Namun North Sumatra Basin lebih menarik investor karena punya cadangan migas yang signifikan dan juga menghasilkan migas dalam volume yang besar seperti blok Arun dan NSO.

Dari peta cadangan hidrokarbon Indonesia, menginformasikan bahwa Aceh masih mempunyai cadangan gas alam yang signifikan dibandingkan dengan cadangan minyak bumi. Ini terlihat dalam peta Wilayah Kerja (WK) Migas Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementrian ESDM, ada beberapa WK migas aktif di Aceh. WK yang berada dalam tahap produksi, yaitu blok B (Arun), Pase NSO, Peureulak KSO, Glagah Kambuna TAC, Gebang dan NAD 1.

WK yang masih dalam tahap eksplorasi dan pengembangan, seperti blok Krueng Mane, Lhokseumawe, Seruway, East Seruway, Andaman III, South Blok A, West Glagah Kambuna dan Blok A (akan produksi). Kemudian ada blok Bireuen-Sigli yang sedang dilakukan joint study antara investor peminat dan Kementerian ESDM. Di samping itu Aceh juga masih menyisakan beberapa area yang bisa ditawarkan sebagai open working areas di pantai timur dan pantai barat Aceh.

Beberapa kegiatan hulu migas seperti akuisisi seismik pengeboran dan instalasi alat-alat berat tampak seperti kegiatan tersembunyi dan harus dirahasiakan. Masyarakat akan mengetahui kegiatan eksplorasi tersebut jika telah terjadi konflik dan diberitakan media cetak, seperti yang terjadi pada PT Saripari Geosains yang melakukan kegiatan seismik di Aceh Utara.

Pada pertengahan Desember 2011, di laut Kuala Bugak, Pereulak juga terjadi insiden antara pihak kapal seismik dengan nelayan setempat. Seperti diberitakan, para nelayan setempat kerap ditakuti dengan senjata api. Konflik sebenarnya bukan saja sering terjadi, tapi juga kerap terulang di tengah masyarakat. Persoalannya sangat sederhana, yaitu tidak adanya sosialisasi pada masyarakat.

Ketertutupan kegiatan migas juga meliputi nilai volume cadangan migas dan lifting (produksi) sumur migas. Sampai saat ini, Pemerintah Aceh selalu mengeluh tentang kesulitan mengakses data ini, sehingga curiga kepada pemerintah pusat terhadap nilai bagi hasil migas Aceh. Menang, setiap tahun Aceh selalu mendapatkan dana bagi hasil migas, tapi tidak dijelaskan bagaimana hitungan bagi hasil-nya.

 Urgensi PP Migas
Kehadiran peraturan pemerintah (PP) Migas Aceh akan menjadi poin penting bagi pengembangan industri di Aceh. Pemerintah Aceh bisa menjadi lebih otonom dalam melakukan kegiatan migas, tentunya dengan membuat sebuah lembaga yang mirip dengan BP Migas, yaitu badan yang mengatur kegiatan hulu migas. Dengan terbentuknya BP Migas Aceh, diharapkan akan memotivasi Aceh untuk membentuk perusahaan-perusahaan migas lokal yang bergerak d ibidang eksplorasi dan produksi (EP).

Diharapkan segala transparansi dan akuntabilitas kegiatan EP migas akan lebih mudah tercapai. PP Migas Aceh harus mensyaratkan prioritas pemenuhan kebutuhan energi lokal seperti komitmen gas untuk industri pupuk dan listrik di Aceh.

Dalam pemakaian tenaga kerja, PP Migas Aceh juga harus mengatur kuota pemakaian tenaga lokal yang perbandingannya harus lebih besar. Semua perusahaan migas yang sekarang sedang beroperasi, baik eksplorasi ataupun produksi, yang izinnya diberikan sebelum PP Migas Aceh terbit, harus diikat dalam PP Migas Aceh ini.

PT Arun bukan perusahaan EP Migas, tetapi ia adalah perusahaan bentukan dari Pertamina, Exxon Mobil dan pemerintah Jepang. PT Arun adalah pabrik pengolah gas alam menjadi cair sehingga memudahkan untuk diekspor. Komitmen penjualan gas cair ini sangat besar sekali untuk ekspor ke Jepang dan Korea dan hanya sedikit untuk pabrik-pabrik pupuk yang ada di Aceh Utara. Akibatnya, sejumlah pabrik di Aceh Utara, terpaksa tutup karena kekurangan pasokan gas.

Dulu, ketika blok B (Arun) dieksploitasi secara besar-besaran, Aceh tidak diberikan kesempatan untuk ikut kedalam pengambilan keputusan. Sekarang, volume gas dari lapangan Arun telah hampir habis, dan kapasitas tangki-tangki LNG Arun tidak lagi ekonomis dalam pemrosesannya. Komitmen gas untuk ekspor ke Jepang dan Korea juga akan segera berakhir.

Menurut analisa ekonomi, kilang PT Arun akan menjadi ekonomis jika diubah menjadi receiving terminal gas. Pemberdayaan aset-aset PT Arun akan lebih bermanfat dibandingkan dengan pembangunan Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) di Belawan, Sumatera Utara.

 Aset berharga
Produksi gas alam baru yang nantinya akan keluar dari perut bumi Aceh akan jauh lebih ekonomis ditampung ke tangki-tangki Arun untuk kebutuhan domestik. Aset-aset PT Arun bukan hanya besi-besi yang nilainya ratusan miliar rupiah, para pekerja dengan pengalamannya adalah aset yang jauh lebih berharga.

Kehadiran BUMD lokal migas sangat dinantikan untuk membantu percepatan pemenuhan gas untuk listrik dan pupuk. BUMD lokal yang dibentuk mungkin dapat memulai kegiatan eksploitasi pada wilayah kerja migas yang akan expired dalam waktu dekat. Keberpihakan Pemerintah pusat terhadap Aceh untuk berdikari pada kegiatan migas sangat ditunggu oleh rakyat Aceh saat ini.

Hal yang paling sederhana mungkin dengan tidak memperpanjang salah satu kontrak blok migas yang akan berakhir pada Februari ini. Kemudian, tentunya, mengikhlaskan PT Arun untuk terus hidup tanpa adanya intrik-intrik untuk mematikan iklim industri Aceh, dan memajukan daerah tertentu dengan membangun pabrik sejenis. Padahal jelas dari desain ekonominya, pabrik Arun lebih ekonomis.

Penulis merasa yakin dengan iklim politik yang lebih kondusif ke depan, akan menggiatkan kembali kegiatan migas di bumi Aceh. Produksi gas Aceh juga diharapkan akan membuka kembali industri-industri yang telah lama mati suri dan melahirkan industri-industri baru. Ini, tentunya, akan tercapai jika semua rakyat Aceh dan pimpinannya berkomitmen penuh membangun Aceh ke arah yang lebih baik, adil dan sejahtera. Amin ya rabbal alamin.

* Nurul Aflah ST, M.Sc
, Alumni penerima beasiswa Pemerintah Aceh jurusan Master of Petroleum Engineering Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, dan Tim Penyusun Kurikulum Teknik Pertambangan Bidang Migas pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

sumber : aceh.tribunnews.com

pasang
Diberdayakan oleh Blogger.