Panas Bumi Jalan Keluar Persoalan Pasokan Energi

Sebagai negara yang sedang berkembang dan memiliki pertumbuhan ekonomi enam persen pertahun, Indonesia masih dihadapkan pada kendala rasio elektrifikasi yang baru mencapai 75,83 persen.

Rusia Membuat Pembangkit Listrik Tenaga Jerami di Sumatera Utara Indonesia

Perusahaan asal Rusia, JSC PromSviaz Automatika, akan membangun pembangkit listrik menggunakan limbah tanaman padi, jerami, dan sekam di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pembangkit memiliki kapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt tergantung ketersediaan jerami dan sekam.

140.000 Turbin Angin Penghasil Listrik di Lepas Pantai Amerika

Ilmu Pengetahuan tidak akan ada habisnya, seperti halnya para ilmuwan di Standorf University Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa hal itu mungkin bisa untuk menyalakan seluruh dunia dengan tenaga angin

Uranium dan Aceh

Keberadaan uranium di Aceh hingga kini masih menjadi tanda tanya dan bahan perdebatan yang tak pasti. Sebagian kalangan meyakini, bahwa Aceh memiliki kekayaan alam “berharga” ini. Dari beberapa hasil searching, Saya menemukan beberapa hal aneh berkaitan dengan keberadaan uranium di Aceh.

pasang
Tampilkan postingan dengan label Biogas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biogas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

Bereksperimen Sederhana Membuat Biogas

Saudara sekalian, biogas adalah gas yang diperoleh dari sampah tanaman, kotoran hewan, dan lain sebagainya yang dapat membusuk. Biogas dapat kita manfaatkan untuk energi. Antara lain untuk memasak.

Ada cara mudah dan sederhana bagi yang ingin mengetahui tentang biogas dan pemanfaatannya. Alat yang dibutuhkan pun ada disekitar kita. Dalam kesempatan ini, saya mencoba menjelaskan secara sederhana mungkin bagaimana cara membuat biogas dengan alat dan bahan disekeliling kita.

Alat/Bahan yang dibutuhkan:
1. Galon air mineral
2. Pisau untuk melubangi tutup galon
3. Pipa logam kecil denga diameter kira-kira 1 cm
4. Selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm
5. Air.
6. Eceng gondong atau sisa sayuran mentah dari dapur.

Cara membuatnya:
1.  Masukkan eceng gondok atau sisa sayuran sampai 1/2 galon.
2. Isilah galon tersebut dengan air secukupnya lalu tutup yang rapat (jangan sampai ada lubang sedikit pun).
3. Simpan selama 7 hari
4. Siapkan pipa logam dengan diameter 1 cm sepanjang 10 cm dan 20 cm (2 buah)
5. Siapkan selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm, sepanjang 1 meter.
6. Lubangi tutup galon air mineral sedikit saja (Jangan dibuka tutupnya agar gas tidak hilang/habis menguap).
7. Lalu tusukkan pipa logam pada tutup tersebut.
8. Kemudian sambungkan selang palstik ke pipa logam pada tutup galon tersebut.
9. Di ujung selang satunya, sambungkan pipa loga 20 cm.
10. Sulutlah dengan korek api.
Jika pembusukannya baik, maka pasti akan menyala.

Pemanfaatan:
Dalam kapasitas yang lebih besar, misalnya menggunakan drum bekas minyak, dapat digunakan untuk bahan bakar kompor gas dengan biogas ini.
Mudah ?,

Catatan: Bila belum berhasil, mungkin terdapat kekurangan bakteri pada sisa sayurannya. Untuk itu dapat ditambah bakteri methanogen yang produknya berupa gas methana (CH4). Tetapi biasanya tanpa ditambah bakteri itu tetap dapat memproduksi biogas.

sumber : www.energinonfosil.wordpress.com

Rabu, 06 Februari 2013

Unair Kembangkan Biogas di Sekitar Merapi

Jurnal Energi - Tim Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengembangkan biogas dan pupuk organik dari kotoran sapi di sekitar kawasan Gunung Merapi di Dusun Tanjung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta.

"Biogas dan pupuk organik itu merupakan pengembangan dari bantuan Unair dan IKA-UA (Ikatan Alumni Universitas Airlangga) kepada warga terdampak bencana Merapi berupa Peternakan Sapi Terpadu," kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unair Prof Romziah Sidik di Surabaya, Minggu, 13 Januari 2013.

Hasil itu diketahui saat rombongan Unair yang dipimpin Warek I Prof Achmad Syahrani, melakukan kunjungan kerja untuk mengevaluasi bantuan peternakan sapi terpadu bersama ketua LPPM Unair Dr Djoko Agus Purwanto, dan Penasehat IKA-UA Mashariono beserta pengurus lainnya ke desa itu, 12 Januari.

Didampingi koordinator komunikasi media Unair, Nadhiroh, Prof Romziah menjelaskan, peternakan sapi terpadu tersebut memang didesain untuk menghasilkan banyak produk, sehingga warga dapat mengelola peternakan secara mandiri dan meningkatkan penghasilan warga korban Merapi.

"Disebut terpadu, karena terdapat saluran pembuangan kotoran yang langsung dialirkan ke sebuah penampungan khusus untuk menghasilkan biogas dan pupuk cair, lalu sumur sebagai sumber air untuk sapi, serta rumput di sekitar lokasi peternakan," tutur dia.

Bukan hanya itu, Unair pun menggandeng koperasi susu "Sarono Makmur" yang berlokasi tak jauh dari peternakan untuk membina peternak dan menyalurkan susu perah hasil peternakan terpadu tersebut. "Kami lega, alih teknologi yang kami perkenalkan berupa biogas telah bisa dinikmati warga," kata Romziah.

Hal ini dibenarkan Kepala Dusun Tanjung, Siti Aisyah, yang telah menikmati biogas untuk memasak. "Alhamdulillah, kami dapat memanfaatkan biogas dari kotoran sapi di sini untuk memasak," ujarnya sambil menyalakan api kompor gas, yang bersumber dari biogas.

Selain memanfaatkan biogas, pupuk cair (organik) yang dihasilkan juga telah dimanfaatkan warga desa untuk menumbuhkan sawah mereka. "Pupuk cair ini biasanya digunakan warga untuk menanam cabai, bawang merah dan tomat yang ada di sekitar sini," kata Siti Aisyah.

Sementara itu, Penasehat IKA-UA Mashariono mengaku, pembangunan peternakan terpadu dengan tabung biogas di dalamnya memakan biaya yang tidak sedikit, yaitu Rp 125 juta. "Itu belum termasuk sapinya," katanya.

Mashariono saat itu juga menyerahkan bantuan untuk pembelian matras sebagai alas sapi itu menegaskan bahwa dana tersebut merupakan hasil pengumpulan dana pada saat pertemuan alumni tahun 2010 plus sumbangan dari Unair sendiri.

"Itu menunjukkan bukti bahwa Unair selain peduli pada bencana lokal, juga peduli terhadap bencana nasional, karena sebelumnya kami juga membantu penduduk sekitar Gunung Bromo berupa pengembangan batik Bromo, ternak lele, dan budidaya jamur," tandas Mashariono.

Dalam kesempatan itu, Amin Muhtar dari Koperasi Sarono Makmur mengatakan, sapi yang disumbangkan Unair telah menghasilkan susu rata-rata 14 liter per sapi per hari. "Koperasi membeli susu dari peternakan itu seharga Rp 3.000 per liter," pungkasnya.

pasang
Diberdayakan oleh Blogger.